EKA NURBULAN

Guru di SDN 10 Panai Hulu, Labuhanbatu, Sumatera Utara. Hobi menulis, membaca, dan menggambar. ...

Selengkapnya
Guru Harus Gila

Guru Harus Gila

What! Guru harus gila? Why? Mungkin yang nulis gila. Begitu membaca judul tersebut, apa yang anda pikirkan? . Yah mungkin saya GILA, karena biasanya sesuatu hal yang diluar sewajarnya, yang tidak biasa-biasa saja, yang keluar dari jalur banyak orang dianggap cari perhatian atau mungkin dianggap gila. Tapi bukan itu yang akan saya kemukakan.

Saat ini kemajuan IPTEK berkembang pesat. Jaman makin melesat. Hidup makin singkat. Apa yang telah kita perbuat. Apakah hanya diam sesaat, apakah kita tersesat, ataukah kita terus berbuat?.

Sebagai guru yang berpendidikan, bergelar sarjana, kita merasa telah mengetahui dan menguasai segalanya. Tapi nyatanya banyak yang tidak kita tahu, banyak yang tidak kita pahami, banyak yang tidak kita sadari. Mari kita renungkan hasil UKG kita, sudah mencapai nilai minimumkah, lalu bertambah tahun makin bertambah nilai minimumnya dan kita hanya diam bingung bahkan ada yang menyalahkan pemerintah. Mari kita renungkan lebih mahir manakah kemampuan internet/teknologi anda dengan siswa anda, saya sendiripun jauh tertinggal dengan beberapa siswa saya yang jago internet, berdecak kagum saya dibuatnya. Lalu apa yang anda lakukan marah, diam, malu atau belajar kepada dia?

Sebagai guru sebaiknya kita bersikap bijaksana. Ingatkah kita meminta siswa untuk rajin belajar, masih ingatkah arti belajar, belajar adalah ...... Belajar dilakukan sepanjang hayat, belajar tidak pandang usia, belajar tidak pandang tempat, dimanapun kita belajar, dengan siapapun kita belajar. Bagaimana menerapkan rajin belajar kepada siswa, jika kita tidak rajin belajar juga.

Mari kita menjadi guru yang GILA CAKEP. Sebagai guru kita harus GILA (Gali Informasi Langsung Aksi) dan CAKEP (Cari Amati Kekurangan Evaluasi Perbaiki). Caranya sebagai berikut:

1. Gali Informasi

Gali Informasi dapat kita lakukan dengan membaca buku, membaca modul, membaca informasi di Internet, ikut workshop, pelatihan, seminar, KKG, diskusi sekolah, bahkan bertanya pada teman. Bagaimana mengajak siswa mencintai membaca, jika gurunya tidak pernah membaca. Bagaimana menjelaskan internet, jika gurunya tidak pernah memegang laptop dan mencoba mencari informasi lewat internet. Bagaimana nilai kita tinggi,jika modul tek pernah dibuka, pelatihan workshop hanya mengobrol. Mari kita sama-sama meningkatkan profesional kita sebagai pendidik yang berkompetensi. Ah, itu hanya teori. Tapi setidaknya kita sudah tahu informasi tersebut, sehingga ketika ada oranglain membicarakan informasi tersebut, bukan hal asing lagi bagi kita.

2. Langsung Aksi

Setelah berbagai ilmu kita dapat Langsung Aksi. Jangan tunggu ilmu itu mengendap lama, langsung lakukan langsung praktekkan langsung jalankan, tempa besi selagi panas. Jika kita langsung beraksi, ilmu yang didapat takkan hilang, bahkan mungkin bertambah. Pembelajaran menjadi bervariasi, menyenangkan, menantang dengan ilmu-ilmu baru, memotivasi, bersemangat, dan tentu saja siswa akan merindukan gurunya dengan segudang pengetahuannya.

3. Cari Amati Kekurangan

Setelah beraksi kita Cari Amati Kekurangan dari ilmu yang kita terapkan. Cari dan amati setiap perilaku siswa dan guru, amati kekurangan dan kelebihan dalam pembelajaran. Catat setiap kekurangan dan kelebihannya.

4. Evaluasi

Evaluasi apa yang telah kita lakukan, baik sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Evaluasi digunakan agar kita dapat menilai kelebihan dan kekurangan diri kita, mengetahui tercapai tidaknya tujuan kita, lalu memperbaiki kekurangan.

5. Perbaiki

Lalu terakhir Perbaiki kekurangan yang kita temukan, gunakan kelebihan yang ada. Karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan, tapi setidaknya kita mencoba memperbaiki untuk menjadi lebih baik.

Saya sebagai penulis hanya mencoba mengajak para guru untuk GILA CAKEP bersama. Sama-sama memperbaiki diri untuk menuju pendidikan yang lebih bermakna. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Salam literasi.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Guru gila = guru hebat, yah?

26 Oct
Balas
search